oleh

Letusan Samalas, Benda Peninggalan Kedatuan Benue Diuji Radiokarbon

-Peristiwa-Ikuti Berita Kami Di Apl Google play / Koran Digital EPAPER

Lombok – Letusan Gunung Samalas di Lombok pada tahun 1257 diyakini menghilangkan banyak peradaban. Konon Salah satunya yang terimbas erupsi dasyat Samalas ity adalah Kedatuan Benue di Dusun Dasan Lekong, Desa Selebung, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah

Beberapa bukti artefak dan benda kuno peninggalan Kedatuan Benue akan dilakukan pengecekan penanggalan radiokarbon untuk mengetahui usia pasti benda tersebut.

Benda-benda yang akan dilakukan pengecekan penanggalan radiokarbon berupa potongan tengkorak manusia yang diduga berasal dari Kedatuan Benue, aneka pecahan logam dan tanah liat, beras kuno yang sudah menghitam dan beberapa keping koin bersimbol swastika.

Pengecekan penanggalan radiokarbon diinisiasi oleh Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Lembaga Kajian Sosial dan Politik M16 Mataram. Benda-benda yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu tengah dibawa ke Jakarta untuk diuji.

“Pengujian radio karbon untuk mengetahui usia suatu benda. Untuk memastikan Kedatuan Benue ada dan eksistensi kebudayaan dan struktur sosial masyarakat saat itu benar-benar menelurkan kebudayaan yang besar,” kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, Sabtu, 13 Agustus 2022.

Selanjutnya Bambang Mei F mengatakan Pengujian Penanggalan Radio Karbon terhadap sejumlah artefak yang terserak disejumlah lokasi sebagai langkah awal untuk menentukan titik dan koordinat sebaran petilasan kebudayaan Kuno Leluhur Lombok dikawasan tersebut.

“Dari bukti artefak yang ada, Tim Ekspedisi Mistis menyakini bahwa Kedatuan Benue merupakan salah satu kotak pandora kebudayaan maju Leluhur Lombok yang pernah Eksis,” ujar lelaki yang akrab disapa didu.

Seorang tokoh pemuda Desa Selebung, Muslim, mengatakan benda-benda yang diyakini peninggalan Kedatuan Benue ditemukan pada 2016 lalu pada kedalaman tanah 40 meter.

“Saat itu ada penggalian tanah uruk di bukit Dusun Ranjok, Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. Para pekerja menemukan benda kuno,” ujarnya.

Ada sebuah teko berbentuk burung Garuda ditemukan pada kedalaman tanah. Usia teko tersebut diperkirakan setara dengan usia Kedatuan Benue. Ada juga beras yang sudah menghitam berton-ton ditemukan. Diduga tempat ditemukannya beras kuno tersebut pada lokasi logistik Kedatuan Benue.

“Kita temukan beras yang masih ada pangkalnya dengan jumlah cukup banyak. Patut diduga lokasi ditemukan beras itu adalah tempat logistik Kedatuan Benue,” katanya.

Banyak warga sering menemukan benda-benda berusia kuno di wilayah tersebut. Namun sayangnya benda-benda tersebut banyak telah dibawa ke luar kampung maupun dijual masyarakat.

Bahkan, warga juga sering menemukan potongan tubuh manusia dengan perhiasan lengkap. Diperkirakan mereka merupakan korban dari letusan Gunung Samalas.

“Potongan tubuh manusia sudah kita kuburkan dengan layak. Itu kita perkirakan korban letusan Gunung Samalas pada 1257,” ujarnya.

Warga setempat, Rohati mengatakan telah banyak menemukan benda-benda peninggalan Kedatuan Benue di kampung mereka. Saat itu dia menyewa lahan warga untuk produksi tanah uruk.

“Saya temukan banyak beras kuno, artefak dalam bentuk logam dan lainnya. Bahkan warga lain menemukan lonceng kuno dan kapak,” katanya.

Rohati mengatakan ada warga juga pernah menemukan kepingan emas. Sayangnya itu kemudian dijual.

“Ada salah seorang warga pernah dapat kepingan emas di sini,” ujarnya.

Ada juga ditemukan bong atau tempat berwudhu bergambar naga. Benda-benda yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu masih berceceran dan diambil warga. Belum ada museum desa untuk menghimpun dan menyimpan benda-benda tersebut.

Rohati mengatakan saat pertama kali menemukan benda tersebut, dia terus mengalami mimpi-mimpi yang aneh. Pernah bermimpi bertemu seorang ulama yang menunjukkan dia masjid yang hampir ambruk.

“Saya sering mimpi aneh. Mimpi didatangi ulama. Bahkan pernah saya saat mau tidur seperti bunyi orang lempar logam atau emas di rumah saya,” ujarnya.

Sementara, Mukmin mengatakan beberapa profesor baik dari Indonesia, Prancis hingga Jepang melakukan penelitian di desa tersebut.

“Ada ahli geologi sering datang ke sini untuk melakukan penelitian. Karena di desa ini juga ada dorphal (batu berukuran besar),” ujarnya.

Dia berharap melalui pengecekan penanggalan radiokarbon dapat memastikan usia benda dan menjadikan desa tersebut desa sejarah dan budaya.

“Berharap desa ini menjadi desa sejarah dan budaya, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed